Blognya Anak Ndeso ™

Informasi | Pendidikan | Renungan | Motivasi

Jual Boneka Murah

Ayah Kembalikan Tanganku

Toko Boneka Online
balita menangis
Bismillaahirrahmaanirrahiim.Assalamu 'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Dear Sahabat,,,

Buat semua yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua. Ingatlah, semarah apapun, janganlah kita bertindak berlebihan. Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak anak yang masih kecil karena mereka masih belum tahu apa apa.

Begini Kisahnya...
Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.


Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!”

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan, "Saya tidak tahu..tuan.""Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja….(iklan..) ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap." kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu."Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

"Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi." katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.

Ulasan:

Sahabat,,,Penerapan pola pendidikan pada anak memang wajib dilakukan. Namun tidak berarti harus dengan menggunakan cara kekerasan. Orang tua juga wajib mengetahui batasan batasan untuk "mengajar" tersebut.

Pemberian hukuman untuk anak tentu tidak sama. Orang tua harus memahami, berapa umur anak, apa jenis kelamin anak, dan jenis hukuman apa yang sesuai untuknya. Karena pada dasarnya hukuman yang diterapkan bertujuan untuk memperbaiki tabiat dan kesalahan kesalahan anak sebelumnya, membangun dan meningkatkan rasa hormat, kedekatan serta ketaatan anak pada orang tuanya.

Dengan pola yang pas dan tepat, orang tua dapat membangun kedekatan emosional dengan buah hatinya, sehingga dengan sendirinya anak akan lebih terbuka akan masalahnya. Ini yang secara tidak langsung telah membuat anak memagari diri mereka terhadap pengaruh pengaruh negatif dari lingkungan luar.

Pola pengasuhan, dan pemberian hukuman yang cerdas, juga berpotensi merangsang dan meningkatkan kreativitas anak. Bakat bakatnya pun juga akan terkeluarkan dengan sempurna. Ini terjadi, karena hukuman yang diberikan lebih mengajarkan anak untuk berfikir terhadap sebab dan akibat dari kesalahan yang dilakukannya sebelumnya. Sehingga, anak cenderung untuk tidak melakukan kesalahan serupa.

Mengapa demikian?

Karena anak yang masih kecil memiliki naluri meniru yang kuat, sifatnya yang polos juga cenderung untuk lebih jujur akan isi hatinya. Perangainya yang menggemaskan pun juga dapat menggambarkan, bakat apa yang sesungguhnya ia miliki. Inilah yang harus diketahui oleh para orang tua, dan para calon orang tua.

Kembali pada kasus di atas...

Pola pengajaran yang salah, di samping merugikan anak juga akan memberikan kerugian bagi orang tua itu sendiri. Orang tua secara tidak langsung telah membangun rasa kekecewaan pada anak, rasa ketakutan akan mendapat kekerasan serupa, dan cenderung mencari pihak pihak lain untuk mengungkapkan isi hatinya. Ini yang harus diwaspadai.Karena bukan tidak mungkin, bahwa anak akan salah dalam mengungkapkan ekspresinya.

Dan khusus pada kasus di atas, orang tua telah sangat sangat di ambang kerugian, karena mereka telah kehilangan salah satu aset terpenting bagi kehidupan mereka saat ini, dan nanti. Kerugian saat ini adalah, orang tua harus membuat planning awal untuk memberdayakan kekurangan pada anaknya, menganggarkan budget yang berlipat lipat, membangun pemahaman dari awal terhadap masalah psikologis dan emosional anak, dan lain lain.

Sedangkan kerugian saat nanti adalah, manakala orang tua gagal membangun pemahaman tersebut, anak tidak ridho dan melakukan pembangkangan atau perbuatan perbuatan tak terduga ( misalnya bunuh diri, dll... ), Maka tanggung jawab orang tua di akhirat akan lebih berat lagi....

Maka berhati hatilah bagi orang tua dan calon orang tua, dalam menyikapi perilaku anak. Terlebih, untuk masalah hukuman....

Rasanya sesak sekali ada orang tua setega itu…Meski saya sendiri paham bagaimana dikerasin/dididik keras oleh orang tua saya. tapi tidak pernah terpikir oleh saya, bagaimana si ibu bisa sebegitu tidak membela si anak waktu si ayah menghukum anaknya…

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat.
Silakan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun.
semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

.:.STA



Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Renungan dengan judul Ayah Kembalikan Tanganku. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://si-irung.blogspot.com/2012/08/bismillaahirrahmaanirrahiim.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Ratu Wisata - Selasa, 14 Agustus 2012

Belum ada komentar untuk "Ayah Kembalikan Tanganku"

Posting Komentar